Akhir Hayat Penggemar Musik dan Pecinta Al Qur'an

Minggu, 26 Agustus 2012 Category : 0

 
Saif Al Battar

Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar do’a ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.

Aku sungguh heran. Bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri: “Alangkah sabarnya mereka…setiap hari begitu…benar-benar mengherankan!”

Aku belum tahu bahwa di situlah kebahagiaan orang mukmin, dan itulah shalat orang-orang pilihan…Mereka bangkit dari tempat tidumya untuk bermunajat kepada Allah.Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah. Padahal berbagai nasihat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu.

Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan ke kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing.
Di sana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati.

Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.
Pekejaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi.

Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak.
Aku bingung dan sering melamun sendirian…banyak waktu luang…pengetahuanku terbatas.
Aku mulai jenuh…tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentult penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah suatu peristiwa yang hingga kini tak pernah kulupakan.

Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol…tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengalihkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban.

Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil daIam kondisi sangat kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah.

Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat.
Ucapkanlah “Laailaaha Illallaah…Laailaaha Illallaah…” perintah temanku.
Tetapi sungguh mengherankan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding.Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat…Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat.

Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi… keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.
Tak ada gunanya…
Suara lagunya semakin melemah…lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak… keduanya telah meninggal dunia.
Kami segera membawa mereka ke dalam mobil.

Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatah pun. Selama pejalanan hanya ada kebisuan, hening.
Kesunyian pecah ketika temanku memulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata: “Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia”. Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku Islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.

Perjalanan ke rumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat.
Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat kusyu’ sekali.

Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu.
Aku kembali pada kebiasaanku semula…Aku seperti tak pemah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pemah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu.

Kejadian Yang Menakjubkan… Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu…sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku.
Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota.

Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri di belakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itu pun langsung tersungkur seketika.
Aku dengan seorang kawan, -bukan yang menemaniku pada peristiwa yang pertama- cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapatpenanganan.

Dia masih muda, dari tampangnya, ia kelihatan seorang yang ta’at menjalankan perintah agama.
Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.

Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an…dengan suara amat lemah.
“Subhanallah! ” dalam kondisi kritis seperti , ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran? Darah mengguyur seluruh pakaiannya; tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati.
Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu. Selama hidup aku tak pernah mendengar suara bacaan Al Quran seindah itu. Dalam batin aku bergumam sendirian: “Aku akan menuntun membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu… apalagi aku Sudah punya pengalaman,” aku meyakinkan diriku sendiri.
Aku dan kawanku seperti kena hipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an yang merdu itu. Sekonyong-konyong tubuhku merinding menjalar dan menyelusup ke setiap rongga.

Tiba-tiba suara itu berhenti. Aku menoleh ke belakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Kupegang tangannya, detak jantungnya nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal dunia.

Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah wafat. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis, air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan.

Sampai di rumah sakit…
Kepada orang-orang di sana kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya.
Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah, semua ingin ikut menyalatinya.

Salah seorang petugas tumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantarkan jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkan ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari Senin. Di sana, almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin. Ketika tejadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang ia santuni. Bahkan ia juga membawa permen untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil.

Bila ada yang mengeluhkan-padanya tentang kejenuhan dalam pejalanan, ia menjawab dengan halus. “Justru saya memanfaatkan waktu perjalananku dengan menghafal dan mengulang-ulang bacaan Al-Qur’an, juga dengan mendengarkan kaset-kaset pengajian, aku mengharap ridha Allah pada setiap langkah kaki yang aku ayunkan,” kata almarhum.
Aku ikut menyalati jenazah dan mengantarnya sampai ke kuburan.
Dalam liang lahat yang sempit, almarhum dikebumikan. Wajahnya dihadapkan ke kiblat.
“Dengan nama Allah dan atas ngama Rasulullah”.
Pelan-pelan, kami menimbuninya dengan tanah…Mintalah kepada Allah keteguhan hati saudaramu, sesungguhnya dia akan ditanya…
Almarhum menghadapi hari pertamanya dari hari-hari akhirat…

Dan aku… sungguh seakan-akan sedang menghadapi hari pertamaku di dunia. Aku benar-benar bertaubat dari kebiasaan burukku. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosaku di masa lalu dan meneguhkanku untuk tetap mentaatinya, memberiku kesudahan hidup yang baik (khusnul khatimah) serta menjadikan kuburanku dan kuburan kaum muslimin sebagai taman-taman Surga. Amin…
(Azzamul Qaadim, hal 36-42)

Sumber : [“Saudariku Apa yang Menghalangimu Untuk Berhijab”; judul asli Kesudahan yang Berlawanan; Asy Syaikh Abdul Hamid Al-Bilaly; Penerbit : Akafa Press Hal. 48].
»»  Lanjutkan...

Masihkah Anda berdo'a melalui Jejaring sosial

Jumat, 24 Agustus 2012 Category : 0

 


pasti pembaca sudah memiliki akun twitter ataupun facebook yang sekarang lagi ngetrend di semua kalangan. dalam pemanfaatannya selalu berbeda, tapi umunya jejaring sosial digunakan sebagai media komunikasi via elektronikyang mencakup semua aspek...tidak perlu panjang lebar lagi,langsung menjurus ke inti permasalahan yaitu bagaimana hukum berdo'a melalui jejaring sosial??


nah disini ane ga bermaksut yang paling bener ataupun menggurui, namun ane mengajak para pembaca untuk memperdalam ilmu, salah satunya bagaimana sih adab berdo'a sesuai syariat Islam dan mungkin sama dengan agama2 lainnya....
 
Allah swt. berfirman:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Rasulullah saw. bersabda:

من لم يسأل الله يغضب عليه

“Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, Allah marah padanya.”

Beliau juga bersabda:
“أفضل العبادة الدعاء“.
“Sebaik-baik ibadah adalah doa”

Diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir dari Nabi saw. bersabda:
“Doa adalah ibadah. Dan Tuhan Kalian menyeru: Berdoalah kalian kepada-Ku, Pasti Aku kabulkan doa kalian.” Rasulullah saw. juga bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling bakhil di antara manusia adalah orang yang pelit salam. Dan selemah-selemah manusia adalah orang yang tidak mau berdoa.”

Dari Salman berkata, Rasulullah saw. bersabda:

لا يرد القضاء إلا الدعاء ولا يزيد في العمر إلا البر

“Putusan atau qadha’ Allah tidak bisa ditolak kecuali dengan doa. Dan sesuatu tidak akan menambah umur kecuali kebaikan atau al-birr.”
Diriwayatkan dari imam Ahmad, Bazzar dan Abu Ya’la dengan sanad jayyid, dari Abu Said bahwa Nabi saw. bersabda:


عن أبي سعيد أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: “ما من مسلم يدعو بدعوة ليس فيها إثم ولا قطيعة رحم إلا أعطاه الله بها إحدى ثلاث إما أن تعجل له دعوته وإما أن يدخرها له في الآخرة وإما أن يصرف عنه من السوء مثلها”. قالوا: إذا نكثر. قال: “الله أكثر”.

“Tiada setiap muslim berdoa dengan suatu doa, dalam doa itu tidak ada unsur dosa dan memutus tali silaturahim, kecuali Allah pasti memberikan kepadanya salah satu dari tiga hal; adakalanya disegerakan doanya baginya, adakalanya disimpan untunya diakhirat kelak, dan adakalanya dirinya dihindarkan dari keburukan.” Para sahabat bertanya: “Jika kami memperbanyak doa?” Rasulullah saw. bersabda: “Allah lebih banyak (mengabulkan doa).”

Rasulullah saw. bersabda:  
“Tiada di atas permukaan bumi seorang muslim yang berdoa kepada Allah dengan suatu doa kecuali Allah akan mendatangkan kepadanya apa yang ia pinta, atau Allah palingkan darinya keburukan. Ketika ia tidak berbuat dosa atau sedang memutus hubungan silaturahim.”

Rasulullah saw. juga bersabda dalam hadits Qudsi, Allah swt. berfirman:
وقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: “إن الله يقول: أنا عند ظن عبدي بي وأنا معه إذا دعاني”.
“Aku tergantung persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya ketika ia berdoa kepada-Ku.”

Dari pandangan diatas disebutkan bahwa, memang diperintahkan kepada manusia untuk berdoa kepada Allah SWT. Namun ada tempat dan waktu-waktu serta keadaan yang telah ditentukan kepada kita untuk berdoa. oleh karena itu kita mengenal adanya adab-adab (aturan/tatacara) berdoa yang baik dan benar.
berikut beberapa Adab berdoa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. 

Pertama, Memakan makanan dan memakai pakaian dari yang halal. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Seorang laki-laki yang lusuh lagi kumal karena lama bepergian mengangkat kedua tanganya ke langit tinggi-tinggi dan berdoa : Ya Rabbi, ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dagingnya tumbuh dari yang haram, maka bagaimana doanya bisa terkabulkan.?” Imam Muslim

Kedua, Hendaknya memilih waktu dan keadaan yang utama, seperti:

1. tengah malam, Rasulullah saw. bersabda:

: قال صلى الله عليه وسلم: “أقرب ما يكون الرب من العبد في جوف الليل الآخر فإن استطعت أن تكون ممن يذكر الله في تلك الساعة فكن”.

“Keadaan yang paling dekan antara Tuhan dan hambanya adalah di waktu tengah malam akhir. Jika kamu mampu menjadi bagian yang berdzikir kepada Allah, maka kerjakanlah pada waktu itu.”
Dari Jabir berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya bagian dari malam ada waktu yang apabila seorang hamba muslim meminta kebaikan kepada Allah dan sesuai dengan waktu itu, pasti Allah mengabulkannya.” Imam Ahmad menambah: “Itu terjadi di setiap malam.”

2. saat sujud. Rasulullah saw. bersabda: “Dan adapun ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah kalian berdoa, niscaya akan diijabahi doa kalian.”

3. ketika adzan. Rasulullah saw. bersabda: “Ketika seorang muadzin mengumandangkan adzan, maka pintu-pintu langit dibuka, dan doa diistijabah.”

4. antara adzan dan iqamat. Rasulullah saw. bersabda: “Doa antara adzan dan iqamat mustajab, maka berdoalah.”

5. ketika bertemu musuh. Dari Sahl bin Saad, dari Nabi saw. bersabda: “Dua keadaan yang tidak tertolak atau sedikit sekali tertotak; doa ketika adzan dan doa ketika berkecamuk perang.”

6. ketika hujan turun. Dari Sahl bin Saad dari Nabi saw. bersabda: “Dan ketika hujan turun.”

7. potongan waktu akhir di hari Jum’at. Rasulullah saw. bersabda: “Hari Jum’at 12 jam tiadalah seorang muslim yang meminta kepada Allah sesuatu, kecuali pasti Allah akan memberinya. Maka carilah waktu itu di akhir waktu bakda shalat Ashar.”

8. doa seseorang untuk saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya. Dalam riwayat Imam Muslim dari Abu Darda’ berkata: “Rasulullah saw. bersabda: “Tiada seorang muslim yang berdoa bagi saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya itu, kecuali Malaikat berkata, bagimu seperti apa yang kamu doakan untuk saudaramu.” Dalam kesempatan yang lain Rasulullah saw. bersabda: “Doa seorang al-akh bagi saudaranya tanpa sepengetahuan dirinya tidak tertolak.”

9. hendaknya ketika tidur dalam kondisi dzikir, kemudian ketika bangun malam berdoa. Dari Muadz bin Jabal dari Nabi saw. bersabda: “Tiada seorang muslim yang tidur dalam keadaan dzikir dan bersuci, kemudian ketika ia bangun di tengah malam, ia meminta kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat, kecuali Allah pasti mengabulkannya.”

Ketiga, Berdoa menghadap kiblat dan mengangkat doa tangan.
Dari Salman Al-Farisi berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah Maha Hidup lagi Maha Pemurah. Dia malu jika ada seseorang yang mengangkat kedua tangannya berdoa kepada-Nya, Dia tidak menerima doanya, nol tanpa hasil.”

Keempat, Dengan suara lirih, tidak keras dan tidak terlalu pelan.
Rasulullah saw. bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya Dzat yang kalian berdoa kepada-Nya tidak tuli dan juga tidak tidak ada / gaib.”

Kelima, Tidak melampaui batas dalam berdoa.
Allah swt. berfirman: “Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan penuh rendah diri dan takut (tidak dikabulkan). Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang melampaui batas.” Al-A’raf:55. Contoh melampai batas dalam berdoa adalah minta disegerakan adzab, atau doa dalam hal dosa dan memutus silaturahim dll.

Keenam, Rendah diri dan khusyu’. Allah swt. berfirman:
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” Al-Araf:55.

Allah swt. berfirman dalam surat Al-Anbiya’:90:
“Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.”

Ketujuh, Sadar ketika berdoa, yakin akan dikabulkan dan benar dalam pengharapan.
عن أبى هريرة قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: “ادعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة واعلموا أن الله لا يستجيب دعاء من قلب غافل لاه”،
Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Berdoalah kepada Allah, sedangkan kalian yakin akan dikabulkan doa kalian. Ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” Imam Ahmad
Rasulullah saw. juga bersabda: “Jika salah satu di antara kalian berdoa, maka jangan berkata: “Ya Allah ampuni saya jika Engkau berkenan. Akan tetapi hendaknya bersungguh-sungguh dalam meminta, dan menunjukkan kebutuhan.”
Sufyan bin ‘Uyainah berkata: “Janganlah salah seorang dari kalian menahan doa apa yang diketahui oleh hatinya (dikabulkan), karena Allah swt. mengabulkan doa makhluk terkutuk, iblis laknatullah alaih. Allah swt. berfirman: “Berkata iblis: “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan. Allah berfirman: “(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh.” Al-Hijr:36-37

Kedelapan, Hendaknya ketika berdoa memelas, menganggap besar apa yang didoakan dan diulang tiga kali.
Ibnu Mas’ud bekata: “Adalah Rasulullah saw. jika berdoa, berdoa tiga kali. Dan ketika meminta, meminta tiga kali. Rasulullah saw. bersabda: “Jika salah satu di antara kalian meminta, maka perbanyaklah atau ulangilah, karena ia sedang meminta kepada Tuhannya.”

Kesembilan, Hendaknya ketika berdoa dimulai dengan dzikir kepada Allah dan memujinya dan agar mengakhirinya dengan shalawat atas nabi saw.

Kesepuluh, Taubat dan mengembalikan hak orang yang dizhalimi, menghadap Allah dengan ringan.

Dari Umar bin Khattab ra. berkata: “Sesungguhnya saya tidak memikul beban ijabah, akan tetapi memikul doa, maka ketika saya telah berupaya dalam doa, maka ijabah atau dikabulkan akan bersamanya.”
 
Ia melanjutkan: “Dengan sikap hati-hati dari apa yang diharamkan Allah swt. Allah akan mengabulkan doa dan tasbih.”

Dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan kecuali orang yang sadar dalam berdoa. Sesungguhnya Allah tidak mengabulkan dari orang yang mendengar, melihat, main-main, sendau-gurau, kecuali orang yang berdoa dengan penuh keyakinan dan kemantapan hati.”

Dari Abu Darda’ berkata: “Mintalah kepada Allah pada hari di mana kamu merasa senang. Karena boleh jadi Allah mengabulkan permintaanmu di saat susah.” Dia juga berkata: “Bersungguhlah dalam berdoa, karena siapa yang memperbanyak mengetok pintu, ia yang akan masuk.”
Dari Hudzaifah berkata: “Akan datang suatu zaman, tidak akan selamat pada zaman itu, kecuali orang yang berdoa dengan doa seperti orang yang akan tenggelam.”

Menghindari kesalahan dalam berdoa

Ada beberapa praktek doa yang disebagian umat muslim masih terus berlangsung, padahal itu menjadi penghalang doa dikabulkan. Di antaranya adalah:

Pertama, Berdoa untuk keburukan keluarga, harta dan jiwa.
Dari Jabir ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kalian berdoa untuk kemadharatan diri kalian, dan jangan berdoa untuk keburukan anak-anak kalian. Jangan berdoa bagi keburukan harta-harta kalian. Janganlah kalian meminta kepada Allah di satu waktu yang diijabah Allah, padahal doa kalian membawa keburukan bagi kalian.” Imam Muslim

Kedua, Terlalu keras dalam berdoa. Allah berfirman:
“Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al-Asmaaul Husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu (doamu) dan janganlah pula merendahkannya. Dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” Al-Isra’:110

Ketiga, Melampau batas. Seperti berdoa agar disegerakan adzab, doa dengan dicampuri dosa dan memutus tali silaturahim.

Keempat, Berdoa dengan pengecualian. Contoh: “Ya Allah, ampuni saya jika Engkau berkenan.”

Kelima, Tergesa-gesa. Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Akan diijabahi doa kalian, jika tidak tergesa-gesa. Sungguh kamu telah berdoa, maka atau kenapa tidak diijabahi?” Imam Bukhari

Dari pandangan diatas dapat saya simpulkan bahwa  berdoa di Jejaring Sosial tidaklah etis dan tidak ada dasar hukumnya mengingat doa adalah termasuk bagian dari ibadah.
BUKANKAH KITA BERDOA INGIN AGAR DOA KITA DIKABULKAN ?. MAKA GUNAKANLAH CARA YANG BENAR DALAM BERDOA.
 
sumber : berbagai sumber
»»  Lanjutkan...

Perbedaan Jilbab dan Kerudung..

Rabu, 22 Agustus 2012 Category : 0

A. Jilbab

 "Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al ahzab 33:59)"

Jilbab adalah pakaian yang merupakan budaya orang Arab. Akan tetapi dengan turunnya ayat ini maka jilbab menjadi budaya Islam dan menjadi pakaian wajib bagi muslimah di seluruh dunia ketika keluar rumah. Karena jilbab berasal dari budaya arab maka orang Arablah yang paling tahu penggambaran jilbab itu seperti apa. Maka definisi jilbab harus diambil dari kamus lengkap ataupun buku yang dikeluarkan oleh orang yang ahli Bahasa Arab.

Adapun definisi jilbab yaang diterangkan dalam kamus al Muhith adalah pakaian yang luas untuk wanita yang dapat menutupi pakaian rumahnya seperti milhafah (mantel). Tafsir Jalalain (jilid 3:1803) memberikan arti jilbab sebagai kain yang dipakai seorang wanita untuk menutupi tubuhnya. Jauhari dalam Ash Shihah mengatakan jilbab adalah kain penutup tubuh wanita dari atas sampai bawah. Khaththath Usman Thaha dalam Tafsir wa Bayan menjelaskan jilbab adalah apa-apa yang dapat menutupi seperti seprai atas tubuh wanita hingga mendekati tanah. Fiqh Sunnah oleh Sayyid Sabiq Jilid 7 (Edisi Indonesia) menerangkan jilbab adalah baju mantel. Dalam Kitab Mujam al Wasith hal 128 jilbab diartikan sebagai pakaian yang menutupi seluruh tubuh atau pakaian luar yang dikenakan diatas pakaian rumah seperti mantel.

 B. Kerudung

Kewajiban kerudung tercantum dalam Al quran surat An Nuur ayat 31


artinya : "...Dan hendaklah mereka mengulurkan kerudungnya (khimar) atas kerah bajunya (juyuub) mereka..."

Khimar atau kerudung adalah apa yang dapat menutupi kepala, leher dan sebagian dada tanpa menutupi muka (Al Baghdady, 1991) Batas bawah yang ditutup oleh kerudung adalah bagian kerah baju yang memperlihatkaan leher dan dada (Tafsir Al Azhar juz XVIII hal 180).
 
sumber  : berbagai sumber
»»  Lanjutkan...

Kunci-kunci surga Allah SWT

Minggu, 19 Agustus 2012 Category : 0


Setiap Muslim, siapapun dia, tentu berharap masuk surga. Bahkan surga adalah puncak harapan setiap Muslim. Baik Muslim yang taat ataupun yang suka maksiat, yang adil ataupun yang fasik, yang lurus ataupun yang menyimpang, yang tunduk pada syariah ataupun yang menentang, yang pasrah kepada Allah SWT ataupun yang membantah, yang memperjuangkan syariah ataupun yang menghalangi tegaknya syariah; semuanya pasti ingin masuk surga; tak ada yang tidak menginginkan surga. Begitulah yang tampak di permukaan
Setiap Muslim, siapapun dia, tentu berharap masuk surga. Bahkan surga adalah puncak harapan setiap Muslim. Baik Muslim yang taat ataupun yang suka maksiat, yang adil ataupun yang fasik, yang lurus ataupun yang menyimpang, yang tunduk pada syariah ataupun yang menentang, yang pasrah kepada Allah SWT ataupun yang membantah, yang memperjuangkan syariah ataupun yang menghalangi tegaknya syariah; semuanya pasti ingin masuk surga; tak ada yang tidak menginginkan surga. Begitulah yang tampak di permukaan.Namun, apa yang dinyatakan oleh baginda Rasulullah SAW ternyata berbeda dengan realitas atau klaim di atas. Pasalnya, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Setiap orang dari umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya heran, “Siapa yang enggan masuk surga, wahai Rasulullah?” Kata beliau, “Mereka yang menaati aku akan masuk surga, sedangkan yang menentang aku berarti mereka enggan masuk surga.” (HR al-Bukhari, Ahmad dan an-Nasa’i).

Karena itu, bagi seorang Muslim yang menaati Rasulullah SAW, surga tentu sedang menanti dirinya untuk dimasuki. Hanya saja, surga memiliki sejumlah pintu, dan pintu-pintu surga (bab al-jannah) memiliki kuncinya masing-masing (miftah al-jannah). Lalu apa kunci-kunci surga itu?

Ada banyak kunci surga sebagaimana yang dinyatakan langsung oleh baginda Rasulullah SAW dalam beberapa haditsnya. Tiga di antaranya adalah: ucapan La Ilaha illaLlah (kalimat at-tahlil); menegakkan shalat; mencintai orang miskin (hubb al-masakin).
Pertama: Rasulullah SAW bersabda, “Miftah al-jannah La ilaha illLlah (Kunci surga adalah Tiada Tuhan kecuali Allah).” (HR al-Bukhari). Di sini tentu yang dimaksud bukanlah sekadar mengucapkan kalimat tahlil di atas, tetapi memaknainya dengan cara merefleksikannya dalam kehidupan. Konsekuensi dari kalimat tahlil adalah: tunduk dan patuh hanya kepada Allah serta tidak membuat aturan sendiri selain aturan yang telah Allah tetapkan. Saat seorang Muslim enggan tunduk dan patuh kepada Allah SWT dengan cara tunduk dan patuh pada seluruh syariah-Nya, pada hakikatnya ia mengingkari kalimat tahlil di atas. Apalagi saat seorang Muslim malah membuat aturan sendiri yang berbeda bahkan bertentangan dengan aturan Allah SWT, yakni aturan yang menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Pada saat demikian, dia bukan saja mengingkari kalimat tahlil di atas, tetapi bahkan telah menyejajarkan dirinya dengan-malah menempatkan dirinya di atas-Allah SWT (Lihat: QS at-Taubah [9]: 31). Padahal Allah SWT telah menegaskan (yang artinya): Sesungguhnya hak membuat hukum itu (yakni menentukan halal-haram, pen.) adalah milik Allah semata(TQS al-An’am [6]: 57).


Kedua: Rasulullah SAW bersabda, “Miftah al-jannah ash-shalat (Kunci surga adalah shalat).”(HR at-Tirmidzi, Ahmad dan al-Baihaqi). Menegakkan shalat adalah ibadah pokok dan utama sekaligus wujud penghambaan seorang Muslim kepada Allah SWT. Tanpa menegakkan shalat, klaim seorang Muslim dalam kalimat La ilaha illalLah tentu layak dipertanyakan. Yang pasti, tanpa shalat, seorang Muslim berarti telah kehilangan salah satu kunci surga.

Ketiga: Rasulullah SAW bersabda, “Miftah al-jannah hub al-masakin (Kunci surga adalah mencintai orang-orang miskin).” (Ats-Tsa’labi, Tafsir ats-Tsa’labi, IV/184).
Refleksi kalimat tahlil dalam kehidupan dan aktivitas shalat adalah cerminan dari hubungan manusia dengan Allah SWT (habl[un] minalLah). Adapun mencintai orang-orang miskin merupakan cerminan dari hubungan manusia dengan manusia lain (habl[un] min an-nas).

Sebagian ulama menambahkan, bahwa di antara kunci surga adalah meninggalkan hawa nafsu. Imam al-Qurthubi, misalnya, mengutip Sahal, menyatakan “Miftah al-jannah tark al-hawa’ (Kunci surga adalah meninggalkan hawa nafsu).” (Al-Qurthubi, IX/208). Hawa nafsu adalah segala ucapan atau tindakan yang bertentangan dengan wahyu. Artinya, hawa nafsu adalah lawan dari wahyu. Ini sesuai dengan firman Allah SWT (yang artinya): Tidaklah yang diucapkan Rasul itu berasal dari hawa nafsunya. Ucapan Rasul itu tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan Allah kepada dirinya (TQS an-Najm [53]: 3-4).

Jika ditelaah, meninggalkan hawa nafsu-tentu seraya mengikuti wahyu-hanyalah konsekuensi belaka dari kalimat tahlil di atas.

Itulah di antara kunci-kunci surga yang diisyaratkan oleh baginda Rasulullah SAW.
Sebaliknya, baginda Rasullah SAW pun menginformasikan kepada kita sejumlah penghalang yang bisa menghalangi kita masuk surga. Beliau, misalnya, bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam kalbunya terdapat sedikit saja sikap sombong (HR Muslim).”


Beliau juga bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahmi (HR al-Bukhari).”

Beliau pun bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang gemar mengadu-domba (HR Muslim).”

Masih ada hadits-hadits senada. Pada akhirnya, semoga kita bisa mendapatkan kunci-kunci surga di atas, dan sebaliknya kita bisa menyingkirkan segala faktor penghalang yang bisa menghalangi kita masuk ke dalam surga-Nya. Amin.(sumber : http://dakwahkampus.com/)
»»  Lanjutkan...

Bahaya Riya'

Kamis, 16 Agustus 2012 Category : 0


Dari Abu Sa’ad bin Abu Fudhalah Al-Anshari salah seorang sahabat Nabi -alaihishshalatu wassalam-, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا جَمَعَ اللَّهُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ, نَادَى مُنَادٍ: مَنْ كَانَ أَشْرَكَ فِي عَمَلٍ عَمِلَهُ لِلَّهِ فَلْيَطْلُبْ ثَوَابَهُ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ

“Apabila Allah mengumpulkan orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terakhir pada hari kiamat – yang tidak ada keraguan dalamnya-, maka akan ada seorang penyeru yang menyeru, “Barangsiapa berbuat syirik dalam suatu amalan yang dia kerjakan untuk Allah, hendaknya dia meminta balasan pahalanya kepada selain Allah tersebut. Karena sesungguhnya Allah Maha tidak membutuhkan sekutu.” (HR. At-Tirmizi no. 3079, Ibnu Majah no. 4193, dan Ahmad no. 17215, serta dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 482)

Dari Abu Said Al-Khudri -radhiallahu anhu- dia berkata:

خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ, فَقَالَ: أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنْ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟ قُلْنَا: بَلَى. فَقَالَ: الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah keluar bersama kami, sementara kami sedang berbincang-bincang tentang dahsyatnya fitnah Al-Masih Ad-Dajjal. Maka beliau bersabda, “Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih aku khawatirkan menimpa diri kalian daripada Al-Masih Ad-Dajjal?” Kami menjawab, “Tentu.” Beliau bersabda, “Syirik yang tersembunyi, yaitu seseorang mengerjakan shalat lalu dia membaguskan shalatnya karena ada seseorang yang memperhatikannya.” (HR. Ibnu Majah no. 4194 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2607)

Penjelasan ringkas:

Riya` dan termasuk di dalamnya sum’ah adalah mengamalkan ibadah dengan niat untuk mendapatkan bagian dunia, baik berupa pujian, harta, kedudukan, wanita, dan semacamnya, dan dia termasuk syirik asghar atau syirik khafi (bagi yang menyamakan keduanya). Dan riya` ini walaupun dia syirik asghar, akan tetapi dosanya lebih besar dibandingkan pembunuhan dan perzinahan, karena dia merupakan kesyirikan, dan kesyirikan dosanya lebih besar dibandingkan dosa-dosa besar selain syirik.
Pelaku riya` ini, tatkala di dunia dia ingin mendapatkan pujian dan penghormatan dari orang karena ibadahnya, maka pada hari kiamat Allah akan mempermalukannya di hadapan seluruh makhluk dengan menyuruhnya untuk mencari pahala amalan kepada makhluk yang dia harapkan pujiannya di dunia. Tidak cukup sampai di situ, setelah Allah Ta’ala mempermalukannya di hadapan seluruh makhluk, Allah Ta’ala langsung mencampakkan para pelaku riya` ini ke dalam jahannam. Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah, “Sesungguhnya manusia paling pertama yang akan dihisab urusannya pada hari kiamat adalah: Seorang lelaki yang mati syahid, lalu dia didatangkan lalu Allah membuat dia mengakui nikmat-nikmatNya dan diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat padanya?” dia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu berperang agar kamu dikatakan pemberani, dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka. Dan (orang kedua adalah) seseorang yang mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan dia membaca (menghafal)  Al-Qur`an. Maka dia didatangkan lalu Allah membuat dia mengakui nikmat-nikmatNya dan diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat padanya?” dia menjawab, “Aku mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan aku membaca Al-Qur`an karena-Mu.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu menuntut ilmu agar kamu dikatakan seorang alim dan kamu membaca Al-Qur`an agar dikatakan, “Dia adalah qari`,”  dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka. Dan (yang ketiga adalah) seseorang yang diberikan keluasan (harta) oleh Allah dan Dia memberikan kepadanya semua jenis harta. Maka dia didatangkan lalu Allah membuat dia mengakui nikmat-nikmatNya dan diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat padanya?” dia menjawab, “Aku tidak menyisakan satu jalanpun yang Engkau senang kalau seseorang berinfak di situ kecuali aku berinfak di situ untuk-Mu.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu melakukan itu agar dikatakan, “Dia adalah orang yang dermawan,” dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 1905)
Hadits di atas jelas menunjukkan bahwa para pelaku riya` adalah makhluk yang pertama kali merasakan panasnya api neraka, mereka terlebih dahulu dicampakkan ke dalam neraka sebelum para penyembah berhala, wal ‘iyadzu billah. Karenanya dengan semua kejelekan riya` di atas, sangat wajar kalau Nabi -alaihishshalatu wassalam- lebih mengkhawatirkan riya` akan menimpa para sahabat -padahal mereka adalah orang-orang yang tinggi ilmu dan keimanannya-, melebihi kekhawatiran beliau terhadap jeleknya fitnah Dajjal. Ini menunjukkan bahwa seorang yang saleh bisa saja terjatuh ke dalam riya` dalam keadan sadar maupun tidak sadar, karenanya Nabi -alaihishshalatu wassalam- mengingatkan para sahabatnya agar waspada dari fitnah yang satu ini.
Amalan pelaku riya` adalah tertolak dan tidak akan diterima oleh Allah. Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman dalam hadits Qudsy, “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan apapun yang dia mempersekutuhkan Aku bersama selain-Ku dalam amalan tersebut, maka akan saya tinggalkan amalannya dan siapa yang dia persekutukan bersama saya”. (HR. Muslim no. 2985 dari Abu Hurairah radhiallahu anhu)
Dan barangsiapa yang amalannya tertolak maka dia wajib untuk mengulanginya jika itu adalah amalan yang wajib. Karenanya barangsiapa yang shalat maghrib karena riya` atau sum’ah maka shalat maghribnya tidak akan diterima dan dia harus mengulangi shalat maghrib tersebut. Demikian halnya dengan amalan-amalan wajib lainnya. Lihat keterangan tambahan di: http://al-atsariyyah.com/?p=823

Hukum amalan yang bercampur dengan riya`:

Munculnya riya` dalam amalan bisa pada dua tempat:
  1. Munculnya di awal ibadah.
Yakni riya` sudah ada sebelum dia mulai beribadah, sehingga yang mendorongnya untuk beribadah adalah riya` itu. Dalam keadaan seperti ini dia telah terjatuh ke dalam riya` dan ibadah yang dia kerjakan itu batal serta dia harus mengulangnya.
  1. Munculnya di pertengahan ibadah.
Dalam keadaan seperti ini pelakunya mempunyai dua keadaan:
  1. Dia berusaha untuk melawan dan menghilangkan riya` tersebut, bahkan mungkin dia jadi tidak konsentrasi dalam ibadahnya karena berusaha menolak riya` setiap kali muncul. Dalam keadaan seperti ini ibadahnya syah bahkan dia bisa mendapatkan pahala karena berjihad melawan setan dan hawa nafsunya.
  2. Dia tidak berusaha untuk menolaknya, bahkan dia merasa tenang dan bertambah khusyu’ dalam riya`nya. Dalam keadaan seperti ini butuh dilihat jenis ibadahnya:
    1. Jika ibadahnya berhubungan antara awal dan akhirnya maka ibadah tersebut batal dan dia harus mengulanginya karena dia telah berbuat kesyirikan.
Maksud ibadah yang berhubungan antara awal dan akhirnya adalah jika akhirnya batal maka awalnya juga batal. Misalnya shalat, wudhu, dan semacamnya. Jika rakaat ketiga shalat batal karena berhadats maka rakaat pertama juga batal, karena semuanya saling berhubungan.
  1. Jika amalannya tidak berhubungan antara awal dan akhir, semisal: Sedekah, membaca Al-Qur`an, dan semacanya. Karena pahala sedekah hari ini tidak berhubungan dengan sedekah kemarin dan pahala ayat yang satu tidak berhubungan dengan ayat sebelum dan setelahnya. Hukum amalan yang seperti ini jika kemasukan riya` adalah, yang batal hanyalah bagian amalan yang terkena riya`, adapun bagian amalan yang tidak terkena riya` maka itu tetap syah dan dia tetap mendapatkan pahala.
Misalnya: Kemarin dia bersedekah Rp. 100.000,- dengan ikhlas, tapi karena dia mendengar ada orang yang memujinya maka hari ini dia bersedekah RP. 200.000,- dengan riya`, maka yang batal hanyalah sedekah hari ini sementara sedekah kemarin tetap syah. Demikian pula halnya jika dia ikhlas dalam membaca ayat 1-3 surah Al-Fatihah dan riya` pada ayat 4-7 darinya, maka yang batal pahalanya hanyalah pahala ayat 4-7. Demikian pula kita katakan dalam masalah puasa.

sumber : http://al-atsariyyah.com
»»  Lanjutkan...

Lebaran Identik Dengan Belanja Baju Baru, Nafsu atau Kebutuhan???

Senin, 13 Agustus 2012 Category : 0

Tidak asing lagi jika di minggu-minggu terakhir bulan Ramadhan pasti menjumpai sederatan motor ataupun mobil yang terjejer rapih di pinggiran jalan utama, umumnya ramainya kendaraan yang "berjejer" itu tepat menjelang sholat isya' mapun taraweh. tidak hanya itu, bahkan sebelum berbuka pun sudah ramai sampai kemacetan pun menjadi "tranding topic" bagi pengguna jalan lainnya yang tidak ikut campur. ini yang sering dilakukan bagi sebagian orang entah itu dari tingkat menengah keatas maupun menengah kebawah,yaitu beli baju baru.

mungkin ini sudah sering kita jumpai entah itu dikota besar maupun didaerah daerah lainnya..nah yang unik lagi mereka hanya membeli baju jika lebaran datang...(trus kemaren-kemaren kemaja aja bray??ngumpulin duit??)..itulah tradisi yang mungkin bisa dibilang unik dan nyeleneh di negara ini.

sebenarnya hal seperti itulah yang bisa mengurangi kadar kita sebagai Hamba Allah, yaitu menghambakan dengan sepenuh hati. mungkin sebaiknya mereka berfikir sudah cukup memiliki pakaian yang masih bisa dipakai,kecuali pakaian yang memang benar-benar rusak bolehlah mereka membeli yang baru. namun masih juga ditemukan orang-orang tersebut membeli bukan karena kebutuhan namun karena dorongan nafsu semata..Naudzubillahimindzalik...

sesuai hadits Rasulullah : 

“Makan, minum, berpakaian dan bersedekahlah kalian tanpa berlebih-lebihan dan kesombongan”.

lebih baik membelanjankan rizqi kita dijalan Allah SWT, sudah bermanfaat bagi diri sendiri bahkan untuk orang lain pula..Allahualam

semoga kita tetap dirahmati dan selalu dalam naungan-Nya..Amiin
»»  Lanjutkan...